Aplikasi Pewarna Batik pada Tenun dari Serat Daun Nanas (Kajian Proporsi Jenis Benang dan Jenis Pewarna)

Susinggih Wijana, Ika Atsari Dewi, Erni Dwi Puji Setyowati

Abstract


Abstract

One type of potential natural fibers are pineapple leaf fiber. The purposes of this research is to determine the strength of the resulting woven fabric torn, knowing the effect of the application of the dyes and the combination of the type of fiber to the intensity of the color of  fabric, and determine the influence of the type of application and combination dye fastness types of fiber to fabric. The method used Randomized Complete Block Design with 2 factors. The results showed that fabric with 50% pineapple leaf yarn: 50% cotton proportion had higher value of tensile strength. The average value were 1306.67 gram and 1381.33 gram from “Pakan” direction and “Lusi” direction. The best treatment based on color intensity selected, was proportion of 100% cotton yarn with type of dye turmeric with a value of 0.198 based on Multiple Attribute calculation. The best treatment based on the selected color fastness proportion of 50% yarn pineapple leaf fiber: 50% cotton with dye avocado leaf with a mean value of 3.3 on a dry rub resistance test, 7.2 in the wet rub resistance test , 1.3 on endurance test laundering (Stainning Scale), and 1.4 on the endurance test laundering (Grey Scale).

Keywords: avocado leaf color, cotton, fabric, turmeric color


Abstrak

Salah satu jenis serat alam yang potensial adalah serat daun nanas. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui kekuatan daya sobek kain tenun yang dihasilkan, mengetahui pengaruh aplikasi jenis pewarna dan kombinasi jenis serat terhadap intensitas warna kain, dan mengetahui pengaruh aplikasi jenis pewarna dan kombinasi jenis serat terhadap ketahanan luntur kain. Metode yang digunakan yaitu RAK dengan 2 faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian kekuatan daya sobek kain menunjukkan bahwa kain yang terbuat dari 50% serat daun nanas : 50% katun memiliki kekuatan daya sobek lebih tinggi dengan nilai rerata 1306,67 gram arah pakan dan 1381,33 gram arah lusi. Perlakuan terbaik berdasarkan intensitas warna yang dipilih yaitu pada perlakuan proporsi jenis benang 100% katun dengan jenis pewarna kunyit dengan nilai 0,198 berdasarkan perhitungan Multiple Attribute. Perlakuan terbaik berdasarkan ketahanan luntur warna yang dipilih yaitu pada perlakuan proporsi jenis benang 50% serat daun nanas : 50% katun dengan jenis pewarna alpukat dengan nilai rerata 3,3 pada uji ketahanan gosokan kering, 7,2 pada uji ketahanan gosokan basah, 1,3 pada uji ketahanan pencucian (Stainning Scale), dan 1,4 pada uji ketahanan pencucian (Grey Scale).

Kata kunci : kain, katun, pewarna daun alpukat, pewarna kunyit


Keywords


avocado leaf color; cotton; fabric; turmeric color

Full Text:

PDF

References


Badan Pusat Statistik. (2012). Pertanian dan Pertambangan: Produksi Buah-Buahan di Indonesia 2012. Dilihat 15 Januari 2015. .

Badan Standarisasi Nasional. SNI (Standar Nasional Indonesia) Pengujian Ketahanan Luntur Warna Kain Terhadap Gosokan 0288-2008.

Badan Standarisasi Nasional. SNI (Standar Nasional Indonesia) Pengujian Kekuatan Daya Sobek Kain Dengan Metode Pendulum 0521-2008.

Badan Standarisasi Nasional. SNI (Standar Nasional Indonesia) Pengujian Ketahanan Luntur Warna Kain Terhadap Pencucian Rumah Tangga 105-C06:2010.

Gunawan, Muh. Ichwan, dan Noerati. (2013). Bahan Ajar Pendidikan & Latihan Profesi Guru (PLPG) Teknologi Tekstil. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

Hartanto, Sugiarto dan Shigeru W. (1993). Teknologi Tekstil. Jakarta: PT Pradnya Paramita.

Hasanudin dan Widjiati. (2002). Penilaian Proses Pencelupan Zat Warna Soga Alam Pada Batik Kapas. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan Batik.

Herlina, S. (2007). Fiksasi Bahan Alami Buah Markisa dan Jeruk Nipis dalam Proses Pewarnaan Batik dengan Zat Warna Indigisol. Yogyakarta: Seni dan Budaya Yogyakarta.

Hidayat, P. (2008). Teknologi Pemanfaatan Serat Daun Nanas Sebagai Alternatif Bahan Baku Tekstil. Teknoin. 13(2): 31-35.

Hutching, J.B. (1999). Food Color and Apearance. Maryland: Aspen publisher Inc.

Kasmudjo dan Panji P.S. (2010). Pemanfaatan Daun Indigofera Sebagai Pewarna Alami Batik. Dalam Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIV 2010. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Kirby. (1963). Vegetable Fibres. London: Leonard Hill.

Kusriniati, D. (2007). Pemanfaatan Daun Sengon (Albizia falcataria) Sebagai Pewarna Kain Sutera Menggunakan Mordan Tawas Dengan Konsentrasi Yang Berbeda Pada Busana Camisol. Skripsi. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Semarang. Semarang

Manurang, M. (2012). Aplikasi Kulit Buah Manggis (Garcia mangostana L.) Sebagai Pewarna Alami Pada Kain Katun Secara Pre-Mordanting. Jurnal Kimia. 6(2): 183-190.

Moerdoko, W. (1975). Evaluasi Tekstil Bagian Kimia. Bandung: Institut Teknologi Tekstil.

Move Indonesia. (2007). Mari Melukis Dengan Pewarna Alami. Mojokerto: Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup.

Nugraha, G. (1999). Pemanfaatan Tanin dari Kulit Kayu Akasia (Acacia mangium Willd) Sebagai Bahan Penyamak Nabati. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Nurman, R. (2011). Pengenalan Dasar Jenis-Jenis Serat Kain Beserta Karakteristiknya. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

Pomeranz Y and Meloan CE. (1994). Food Anlysis Theory and Practise. New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Saati, E. A. (2004). Studi Efektivitas Ekstrak Pigmen Antosianin Bunga Mawar (Rosa sp.) terhadap Sumbangan Warna dan Daya Antioksidan pada Produk Makanan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Setyawan, Paryanto D, Nasmi H.S, Dewa P.P. (2012). Pengaruh Orientasi Dan Fraksi Volume Serat Daun Nanas (Ananas comosus) Terhadap Kekuatan Tarik Komposit Polyester Tak Jenuh (UP). Dinamika Teknik Mesin. 2(1): 28-32.

Soebandi, B. (2008). Teknik Pengolahan Zat Warna Alam Untuk Pewarnaan Batik (ZPA). Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.




https://doi.org/10.21776/ub.industria.2016.005.01.4

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri